Edukasi Masyarakat Soal Bencana Gempa, Ahli Geologi: Media Punya Peran Sangat Strategis

5 hours ago 6

Langgam.id — Edukasi kebencanaan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami. Ahli geologi dan vulkanologi Sumatera Barat, Ade Edward, menilai media massa memiliki peran yang sangat strategis dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai karakteristik gempa serta langkah yang perlu dilakukan ketika bencana terjadi.

Menurut Ade, peran media tidak seharusnya hanya muncul ketika gempa besar terjadi. Media perlu secara konsisten menghadirkan informasi dan edukasi mengenai kebencanaan agar masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup sebelum menghadapi situasi darurat.

“Peran media sangat strategis. Bagaimana menerangkan ciri-ciri gempa mana yang akan merusak,” kata Ade saat memberikan keterangan kepada Langgam.id, Rabu (19/8/2026).

Ia menjelaskan, masyarakat perlu memahami bahwa setiap gempa dapat memiliki karakter guncangan yang berbeda. Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak sekadar mengetahui adanya gempa, tetapi juga mampu mengenali kondisi yang berpotensi membahayakan.

Ade menilai informasi mengenai gempa yang berpotensi merusak bangunan maupun gempa yang berpotensi diikuti tsunami harus disampaikan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

“Informasi tentang bagaimana tanda-tanda gempa yang akan diikuti tsunami, gempa yang mengayun lambat. Kadang saking lambatnya, orang yang tidur tidak bisa tahu,” ujarnya.

Menurutnya, edukasi semacam itu sangat penting bagi masyarakat, terutama dalam menghadapi gempa yang terjadi pada malam hari. Dalam kondisi tersebut, masyarakat membutuhkan pengetahuan dan kesiapan mandiri karena situasi darurat dapat terjadi ketika sebagian besar orang sedang tidur.

Karena itu, Ade mendorong masyarakat untuk menyiapkan sistem peringatan sederhana di rumah masing-masing. Namun, menurutnya, kesiapan tersebut harus didukung pemahaman mengenai karakter guncangan gempa dan potensi bahaya yang menyertainya.

“Di sinilah perlunya alat-alat alarm sederhana yang disiapkan oleh masyarakat di rumah masing-masing,” katanya.

Ade menegaskan, literasi kebencanaan perlu dibangun secara berkelanjutan. Media dapat mengambil peran dengan mengemas informasi mitigasi dalam berbagai bentuk sehingga pengetahuan mengenai gempa dan tsunami menjadi bagian dari kesiapsiagaan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada sistem peringatan dini yang dioperasikan pemerintah. Menurutnya, dalam kondisi bencana, sistem maupun petugas yang mengoperasikannya juga dapat menghadapi gangguan.

“Kalau mengandalkan warning system, bisa saja petugasnya juga terganggu atau terlambat,” ujarnya.

Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat perlu dibangun hingga tingkat keluarga. Setiap keluarga diharapkan memiliki pemahaman mengenai apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, termasuk menyiapkan alarm atau sistem pengingat sederhana di rumah.

“Selain itu, buatlah alarm sendiri di rumah masing-masing sebagai pengingat,” ujar Ade.

Ia menilai media memiliki posisi penting untuk memperkuat budaya sadar bencana di tengah masyarakat. Edukasi yang dilakukan secara rutin diharapkan dapat membuat masyarakat lebih siap, tidak panik, serta mampu mengambil tindakan yang tepat ketika gempa bumi maupun ancaman tsunami terjadi.

Dengan demikian, informasi kebencanaan tidak hanya menjadi berita ketika bencana berlangsung, tetapi juga menjadi sarana edukasi yang membantu masyarakat membangun kesiapsiagaan sebelum bencana terjadi. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |