2 Gempa Berdekatan Guncang Sumut hingga terasa di Sumbar, Ini Kata Pakar

6 hours ago 10

Langgam.id – Beberapa hari terakhir rentetan gempa terjadi di sejumlah wilayah Pulau Sumatra. Gempa pertama berkekuatan M6,4 mengguncang Simalungun pada Sabtu (15/8/2026). Lalu, pada Selasa (18/8/2026), gempa M6,1 terjadi di laut tenggara Nias Selatan.

Kepala Pusat Mitigasi Bencana dan Observasi Bumi Universitas Negeri Padang (UNP) Pakhrur Razi menilai, rangkaian gempa yang terjadi tidak serta merta menunjukkan seluruh sistem sesar di Pulau Sumatra sedang aktif secara bersamaan. 

Kata Pakhrur, rentetan gempa tersebut belum tentu menjadi pertanda gempa besar akan terjadi. Menurutnya, aktivitas kegempaan di Sumatra harus dipahami dalam konteks dinamika tektonik yang kompleks.

Sumatra berada pada wilayah pertemuan Lempeng Indo-Australia yang bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Sunda. Kondisi tersebut menghasilkan sejumlah sumber gempa, mulai dari zona subduksi atau megathrust di lepas pantai barat Sumatra hingga sistem Sesar Sumatra yang membentang dari Aceh sampai Lampung.

“Karena itu, secara geologi dan geofisika, Sumatra merupakan wilayah yang secara alami memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang tinggi,” katanya kepada Langgam.id, Rabu (19/8/2026).

Pakhrur menjelaskan, gempa bermagnitudo 6,9 yang terjadi pada 15 Agustus 2026 di sekitar Pematangsiantar memiliki karakter berbeda dengan gempa dangkal yang bersumber dari sesar aktif di dekat permukaan.

Gempa tersebut memiliki kedalaman sekitar 172,5 kilometer dan getarannya dirasakan hingga radius sekitar 250 kilometer.

“Kedalaman yang cukup besar menunjukkan bahwa gempa tersebut memiliki karakter berbeda dengan gempa dangkal yang terjadi langsung pada sesar aktif di permukaan,” ujarnya.

Lanjut Pakhrur, gempa dalam dapat menghasilkan getaran yang terasa dalam wilayah luas karena gelombang seismiknya merambat melalui struktur batuan di dalam bumi dengan jangkauan cukup jauh.

Karena itu, getaran gempa yang dirasakan hingga Sumbar tidak otomatis menunjukkan sesar Sumatra bergerak secara bersamaan dari Sumatra Utara hingga Sumbar.

Sementara itu, gempa bermagnitudo 5,6 yang terjadi pada 18 Agustus 2026 di wilayah Teluk Dalam, bagian utara Pulau Siberut, Mentawai, memiliki karakter berbeda.

Gempa tersebut tergolong dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Kondisi ini membuat guncangan perlu mendapat perhatian karena sumber energi gempa berada lebih dekat dengan permukaan.

“Gempa dangkal perlu mendapat perhatian khusus karena sumber energinya berada lebih dekat dengan permukaan sehingga berpotensi menghasilkan guncangan yang lebih kuat di sekitar wilayah episenter,” jelasnya.

Meski terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan, Pakhrur menegaskan, kedua kejadian tersebut tidak bisa langsung dianggap memiliki hubungan sebab-akibat.

Ia menjelaskan untuk mengetahui keterkaitan antar-gempa, diperlukan analisis terhadap mekanisme sumber, kedalaman, lokasi episentrum, distribusi gempa susulan, perubahan tegangan, serta data deformasi kerak bumi.

“Gempa yang terjadi pada sumber tektonik berbeda dapat terjadi dalam waktu yang berdekatan tanpa memiliki hubungan sebab-akibat secara langsung,” ungkapnya.

Ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada, namun tidak menyimpulkan akan terjadi gempa besar hanya berdasarkan rangkaian kejadian gempa dalam beberapa hari.

Menurutnya, Indonesia memang merupakan kawasan dengan aktivitas tektonik tinggi. Namun, hingga saat ini waktu, lokasi, dan kekuatan gempa belum dapat diprediksi secara pasti.

“Karena itu, kesiapsiagaan menjadi jauh lebih penting dibandingkan mempercayai prediksi yang tidak memiliki dasar ilmiah,” pungkasnya. (WAN)

Read Entire Article
Pekerja | | | |