Langgam.id – Kawasan pesisir Indonesia kini menghadapi tekanan yang semakin besar akibat perubahan iklim. Abrasi pantai, berkurangnya tutupan mangrove, hingga menurunnya kualitas ekosistem pesisir mulai berdampak pada kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup dari laut.
Kondisi itu juga dirasakan masyarakat Nagari Pulau Karam, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan. Di kawasan yang menjadi bagian dari destinasi wisata Mandeh tersebut, abrasi terus menggerus garis pantai dan mengancam keberlanjutan ekosistem pesisir.
Berangkat dari kondisi tersebut, Sumatra Wild Adventure (SWA) bersama Wahid Foundation menggelar Conservation Camp 2026 bertajuk “Suara dari Pesisir: Aksi Nyata untuk Restorasi Mangrove dan Literasi Iklim” pada 17-19 Juli 2026 lalu di Pantai Muaro Bantiang, Nagari Pulau Karam.
Program ini merupakan bagian dari kampanye Suara Rimba Pesisir yang berfokus pada restorasi mangrove, peningkatan literasi perubahan iklim, serta pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis potensi lokal. Kegiatan terlaksana melalui kolaborasi Wahid Foundation, Temasek Foundation, Harmony in Action, Sumatra Wild Adventure, Suara Rimba Pesisir, dan CHEJ.
Abrasi Gerus Garis Pantai
Founder Sumatra Wild Adventure, Novi Fani Rovika, mengatakan hasil kajian lapangan menunjukkan Pulau Karam mengalami tekanan ekologis yang cukup serius akibat abrasi.
Menurutnya, hingga tahap kedua program, sebanyak 350 bibit mangrove telah ditanam dari target 1.000 bibit.
“Abrasi yang terjadi cukup signifikan. Berdasarkan data yang kami peroleh, sekitar 20 persen garis pantai di Nagari Pulau Karam telah hilang,” ujar Fani.
Abrasi tidak hanya mengubah bentang pesisir, tetapi juga merusak vegetasi pantai seperti cemara laut (Casuarina equisetifolia) yang selama ini berfungsi sebagai pelindung alami dari gelombang.
Selain itu, Pantai Muaro juga merupakan salah satu jalur peneluran penyu. Namun habitat satwa dilindungi tersebut masih menghadapi ancaman, salah satunya pengambilan telur penyu secara ilegal.
Tak Sekadar Menanam Mangrove
PIC Conservation Camp 2026, Afwan, menjelaskan restorasi mangrove hanyalah satu bagian dari program yang lebih besar.
“Conservation Camp merupakan bagian dari kampanye Suara Rimba Pesisir. Kami tidak hanya fokus pada penanaman mangrove, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui pengembangan UMKM, wisata, dan pemanfaatan potensi lokal,” katanya.
Menurut Afwan, persoalan lingkungan di Pulau Karam tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat.
“Ada ancaman abrasi, deforestasi mangrove, dan kerentanan ekonomi. Sebagian besar masyarakat masih bergantung pada hasil laut sehingga kondisi lingkungan sangat memengaruhi pendapatan mereka,” ujarnya.
Menjaga Alam Sekaligus Menguatkan Ekonomi
Melalui program ini, penyelenggara tidak hanya melakukan penanaman mangrove, tetapi juga memberikan edukasi mengenai perubahan iklim, pelatihan bagi masyarakat, hingga pengembangan produk UMKM berbasis sumber daya pesisir.
Kelompok Wanita Tani (KWT), kader PKK, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), mahasiswa, dan generasi muda dilibatkan secara aktif.
Salah satu potensi yang dikembangkan adalah pemanfaatan buah nipah (Nypa fruticans) menjadi produk bernilai ekonomi sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat tanpa merusak lingkungan.
Krisis Iklim Sudah Terjadi
Novi Fani menilai perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan.
“Krisis iklim sering dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari, padahal dampaknya sudah dirasakan masyarakat pesisir. Pengetahuan dan kearifan lokal, seperti tradisi mamuke, kini semakin sulit dipraktikkan karena perubahan ekosistem,” katanya.
Generasi Muda Punya Peran Penting
Peserta Conservation Camp, Diko Okta Siswandra, mengatakan pelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama generasi muda.
“Menjaga alam bukan pilihan, tetapi kewajiban moral yang harus dilakukan hari ini. Setiap kerusakan lingkungan yang kita biarkan akan menjadi beban bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan konservasi memberi ruang bagi generasi muda untuk belajar sekaligus terlibat langsung dalam upaya menjaga lingkungan.
Perempuan Jadi Motor Penggerak
Keberhasilan program juga ditopang keterlibatan masyarakat, terutama kelompok perempuan di Nagari Pulau Karam.
Menurut Novi Fani, antusiasme kelompok ibu-ibu menjadi kekuatan utama dalam menjalankan berbagai kegiatan konservasi.
“Mereka menjadi benteng utama sekaligus motor penggerak perubahan di daerah ini. Dukungan masyarakat dan pemerintah nagari menjadi modal terbesar untuk menjaga keberlanjutan program,” katanya.
Afwan berharap Conservation Camp 2026 menjadi awal lahirnya kolaborasi yang lebih luas dalam menjaga kawasan pesisir Pulau Karam.
Ia berharap semakin banyak komunitas, perguruan tinggi, pemerintah, maupun organisasi lingkungan yang ikut berkontribusi dalam pelestarian kawasan tersebut.
Melalui gerakan Suara Rimba Pesisir, Pulau Karam diharapkan dapat menjadi contoh model konservasi berbasis masyarakat, di mana pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga.
Sebab, menjaga pesisir bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga menjaga ruang hidup masyarakat dan memastikan keberlanjutannya bagi generasi mendatang. (Diko)















































