Langgam.id – Sebanyak 100 kepala keluarga korban terdampak bencana galodo masih menghuni hunian sementara atau huntara di Kapalo Koto, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat (Sumbar). Delapan bulan pascabencana, mereka masih belum mengetahui kapan akan dipindahkan ke hunian tetap (huntap).
Para korban mengaku belum pernah menerima sosialisasi resmi mengenai relokasilokasi pasti huntap yang akan mereka tempati.
Seorang penghuni huntara, Fitria Yenti, mengatakan selama ini informasi yang diterima warga hanya sebatas kabar dari mulut ke mulut.
“Kami belum tahu kapan pindah ke Huntap. Belum ada sosialisasi. Dulu cuma dibilang paling lama setahun tinggal di Huntara,” kata ibu dari lima anak itu, kepada Langgam.id, Senin (20/7/2026).
Perempuan 45 tahun ini mengaku hanya mendengar informasi bahwa huntap akan dibangun di kawasan Balai Gadang, Lubuk Minturun, dan Sungkai, Kelurahan Lambung Bukit. Namun hingga kini, tidak ada kepastian apakah dirinya termasuk penerima Huntap.
“Saya juga tidak tahu masuk daftar penerima atau tidak. Kami bingung mau bertanya ke siapa,” ujarnya.
Sebelum galodo menghancurkan rumahnya, Fitria tinggal di Jalan Irigasi, Kelurahan Cupak Tangah, Kecamatan Pauh. Rumahnya yang berada di tepi sungai kini rusak berat, karena sebagian bangunannya sudah menjorok ke aliran sungai.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia kini bekerja serabutan dengan membantu menggosok pakaian milik warga. Penghasilannya hanya sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari.
“Anak lima, dan masih sekolah dua orang,” ungkapnya.
Penghuni huntara lainnya, Murni Enita (68), menambahkan hingga kini warga juga belum menerima penjelasan resmi mengenai lokasi huntap.
“Belum ada sosialisasi. Lokasinya di mana pun masih kabar burung,” kata dia.
Menurut Murni, warga mendengar kawasan Sungkai menjadi salah satu lokasi Huntap bagi korban galodo di Kecamatan Pauh. Namun, kawasan tersebut dinilai masih minim akses dan fasilitas.
“Jalannya belum bagus. Masih jauh ke dalam. Fasilitas juga belum ada,” ucapnya sembari mengaku warga tidak memiliki banyak pilihan.
“Kalau memang di sana ditetapkan, ya kami terima saja. Rumah sudah tidak ada lagi. Yang penting dapat tempat tinggal,” sambungnya.
Hal senada disampaikan Marnis (58). Petani yang juga tinggal di Huntara itu mengaku belum mendapat kepastian lokasi huntap.
Ia kehilangan rumah sekaligus mata pencaharian setelah galodo menghancurkan rumah dan sawah yang selama ini digarapnya.
“Sudah delapan bulan saya belum bisa kembali mengolah sawah. Sekarang cari makan dengan memuat batu di sungai. Suami saya jadi buruh,” cerinya.
Menurut Marnis, lokasi huntap yang jauh dari lahan pertanian akan menambah biaya hidup keluarganya.
“Kalau di Sungkai, tentu biaya bensin bertambah untuk ke sawah,” ujarnya.
Sementara itu, penghuni Huntara lainnya, Yulia (31), mengaku bersedia direlokasi ke mana pun selama keluarganya memperoleh tempat tinggal yang layak.
Ia mengatakan saat ini masih tinggal di kawasan yang masuk zona rawan sehingga rasa trauma terhadap banjir dan galodo belum hilang.
“Kalau air mulai besar, saya masih takut. Tinggal di huntara juga sudah mulai tidak betah,” katanya.
Selain itu, fasilitas di huntara dinilai masih jauh dari memadai. Warga masih menggunakan toilet bersama dan air bersih yang tersedia sering keruh hingga menyebabkan gatal-gatal pada kulit anak-anak.
Penghuni lainnya, Nurmaini (66), berharap pemerintah mempertimbangkan lokasi Huntap yang lebih dekat dengan pusat permukiman.
Menurutnya, usia yang sudah lanjut membuatnya khawatir jika harus tinggal jauh dari fasilitas umum.
“Kalau bisa dekat Pauh saja. Tapi kalau memang harus di Sungkai, mau bagaimana lagi. Yang penting kami punya rumah lagi,” kata dja.
Nurmaini mengaku kehilangan rumah dan sawah akibat galodo. Kini ia bertahan hidup dengan berjualan makanan ringan, di Huntara setelah suaminya meninggal dunia pada Mei 2026.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Padang menargetkan pembangunan 523 unit huntap bagi korban bencana di Kota Padang. Penyelesaian infrastruktur terus dikebut, targetkan akhir Juli 2026, agar proses penyerahan rumah kepada korban terdampak segera dilakukan.
Sebanyak 340 unit akan dibangun di lokasi utama Balai Gadang, Lubuk Minturun, sedangkan sisanya akan dibangun di kawasan Sungkai.
Secara keseluruhan, target pembangunan huntap di Sumbar mencapai lebih dari 2.500 unit, dengan sekitar 500 unit dialokasikan untuk Kota Padang. (WAN)















































