Diskusi Agustus Bulan Bung Hatta, Alex Indra Lukman: Perbedaan Pilihan Politik Hanya Saat Kontestasi

3 hours ago 7

Langgam.id – Ketua PDIP Sumatera Barat, Alex Indra Lukman menyitir ulang perbedaan pilihan politiknya dengan tokoh Minang dalam berbagai kontestasi politik nasional maupun lokal.

Perbedaan pilihan itu, tegas dia, hanya terjadi di saat kontestasi. Tak berlanjut pada agenda lain, terutama dalam hal perjuangan terhadap perbaikan kondisi daerah dan masyarakat.

“Kita boleh berbeda prinsip. Kita boleh berbeda ide. Kita boleh berbeda gagasan. Tapi harusnya kemudian hubungan emosional, hubungan silaturahmi, tetap terjaga,” terang Alex.

Hal itu disampaikannya, saat membuka peringatan “Bulan Agustus Bulan Bung Hatta: Membaca Ulang Perjalanan Kebangsaan Minangkabau” yang digelar di Kantor DPC PDIP Padang, kawasan Ulak Karang, Minggu Malam.

Peringatan yang dirangkai dengan pagelaran naratif musikal itu, disertai dengan Pidato Politik Halida Hatta, putri proklamator Bung Hatta. Pagelaran naratif musikal ini dikreasikan budayawan Sumbar, Edy Utama.

Pentingnya menjaga silaturahmi, langsung dipraktekan Alex saat memberikan sambutan yang sengaja disingkatnya.
Alasan Alex meringkas sambutan, memberi waktu pada Wali Kota Fadly Amran, yang baru mengonfirmasi kehadiran sekitar pukul 18.00 WIB, berselang 1,5 jam jelang acara digelar.

Telatnya kofirmasi, membuat rundown acara disusun tanpa ada waktu bagi Wali Kota Padang untuk memberikan sambutan.

“Saya adalah Ketua PDIP Sumatera Barat. Pak Fadly ini, merupakan Ketua Nasdem Sumatera Barat dan wali kota Padang. Dalam banyak hal, kita berada dalam agenda yang tidak sama. Namun, sewajarnya kita berbagi panggung dan waktu,” ungkap Alex.

Menurut Alex, kesadaran untuk terus berbagi panggung dan waktu itu, didapatkannya dari dua orang gurunya dalam berpolitik.

Yakni, sang ayah, mantan Sekretaris PDIP Sumbar, Yohanes Lukman dan Taufik Kiemas Datuk Basa Batuah, politisi senior PDIP yang juga suami Ibu Ketua Umum PDIP, Megawati Sukarnoputri.

“Dari almarhum ayah, saya mengingat pesan, ‘Berpolitik lah dengan memperjuangkan hak minoritas dengan menghargai mayoritas.’,” ungkap Alex.

“Dari almarhum Pak Taufik, soal rivalitas dalam perjuangan politik yang tak dapat dielakan. Pesan Pak TK (Taufik Kiemas); ‘Buat apa menang 5-0 kalau dengan 2-1 pun sudah menang,” tambah anggota DPR RI Dapil Sumatera Barat I itu.

Merdeka Berpikir dan Kemandirian

Pentingnya tokoh bangsa untuk berbagi panggung dan waktu itu, juga diungkapkan Halida Hatta saat menyampaikan pidato politiknya yang ditingkahi berbagai bunyi-bunyian musik tradisi Minangkabau yang dimainkan kelompok musik kontemporer “Talago Bunyi.”

“Ayah dan Bung Karno, merupakan sosok yang saling percaya dengan kapasitas masing-masing. Kehadiran mereka dalam perjuangan kebangsaan ini, saling melengkapi,” ungkap Halida dalam pidatonya.

“Saling percaya juga terjadi pada pemimpin sipil yang direpresentasikan Bung Karno-Hatta dengan berbagai pemimpin militer yang bergerilya di hutan-hutan. Semuanya saling percaya bahwa tujuannya tetap sama, menuju kemerdekaan bangsa,” tambah putri bungsu Bung Hatta ini.

Di usia 81 tahun kemerdekaan Indonesia, Halida Hatta mengingatkan makna kemerdekaan yang juga harus diwujudkan melalui kemerdekaan dalam berpikir, kemandirian dan kemampuan bangsa menentukan masa depannya sendiri.

“Indonesia merdeka, tetapi kita juga harus bisa menjamin bahwa kita merdeka dalam berpikir,” tegas Halida.

Di era makin pesatnya perkembangan teknologi informasi yang salah satunya ditandai dengan makin maraknya pengguna kecerdasan buatan atau artificial intelegence (AI), Halida mengingatkan masyarakat agar terus mengasah akal untuk terus memiliki kemampuan berpikir kritis.

“Perkembangan teknologi telah membuat akses terhadap informasi semakin mudah. Namun, kemudahan tersebut juga membawa tantangan karena masyarakat dapat dengan cepat menerima informasi yang belum tentu lengkap dan bertanggung jawab,” terangnya.

“Jangan sampai kita tergerus hanya percaya kepada informasi-informasi pendek, sepotong, dan juga yang mungkin kurang bertanggung jawab dalam penyaluran informasi,” kata Halida.

Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk memperbanyak bacaan dan referensi serta membiasakan diri melihat sebuah persoalan dari berbagai sudut pandang.

Agar masyarakat terbiasa dengan beragam sudut pandang, Halida mengungkap warisan penting Bung Hatta maupun Bun Karno, kebiasaan membaca dan belajar. Keduanya tidak hanya mempelajari teori politik dan ideologi, tetapi juga mendalami filsafat, sastra serta berbagai pemikiran tokoh dunia.

Dalam pidatonya, Halida juga mengajak masyarakat membaca kembali karya-karya Bung Karno dan Bung Hatta untuk memahami gagasan kebangsaan kedua tokoh tersebut secara lebih utuh.

Dalam pidatonya, Halida Hatta juga menyampaikan rasa terima kasih keluarga besar Bung Hatta pada PDIP yang selalu ingat dwi tunggal dan merayakannya secara konsisten setiap tahun.

PDIP Sumbar Pecah Telor

Kepala Bidang Sejarah DPP PDI Perjuangan, Bonnie Triyana dalam sambutannya mengungkapkan, DPP PDIP selalu menjadikan dua bulan sepanjang tahun yakni bulan Juni dan Agustus sebagai bulannya dwi tunggal, Sukarno-Hatta.
Untuk peringatan Bulan Bung Karno, telah digelar selama 16 tahun. Tradisi tahunan ini pertama kali diselenggarakan DPP PDIP pada bulan Juni tahun 2010 lalu.

Sementara, Bulan Bung Hatta yang lebih dikenal sebagai ‘Pekan Bung Hatta,’ telah digelar secara berturut-turut sejak Agustus tahun 2021. Setiap tahunnya, digelar tanggal 12 hingga 17 Agustus.

“PDIP Sumatera Barat pecah telor. Bung Alex (Indra Lukman) buktikan tidak lupa dengan sejarah,” ungkap Bonnie yang hadir bersama Sigit Karyawan Yunianto (Komisi XII DPR RI dari Fraksi PDIP).

“Kita akan terus kenang dan kita akan merayakan bersama-sama sehingga pemikiran Dwi Tunggal ini akan terus hidup,” tambah Bonnie yang hadir bersama Sekretaris Acara Pekan Bung Hatta sekaligus anggota DPR RI, Sigit Karyawan Yunianto.

Dikesempatan itu, Bonnie mengajak masyarakat untuk menilai ulang berbagai anggapan yang menggambarkan hubungan Bung Karno dan Bung Hatta sebagai hubungan yang selalu berseberangan.

“Ini perlu kita lihat lagi secara lebih proporsional. Keduanya memiliki peran dan kapasitas yang berbeda, tetapi sama-sama berjuang untuk mencapai cita-cita kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.

Nama Hatta di Mars Kota Padang

Wali Kota Padang, Fadly Amran mengatakan, Bung Hatta memiliki hubungan historis yang kuat dengan Kota Padang maupun Sumatera Barat.

Khusus Kota Padang, jejak Bung Hatta bahkan dituliskan secara spesifik dalam Mars Kota Padang. Tak sekadar bagian dari identitas sejarah daerah.

“Bung Hatta sekolah di kota ini. Kota pendidikan, di mana Bung Hatta belajar. Kalimat itu, literally, betul-betul tertulis di Mars Kota Padang,” kata Fadly.

Dikesempatan itu, Fadly menyampaikan terima kasihnya pada PDIP Sumatera Barat yang telah memberikan dukungannya, baik saat mencalonkan diri di Pilkada Padang Panjang tahun 2018 maupun Pilkada Padang tahun 2025 lalu. Di dua kali pemberian dukungan itu, Fadly berhasil jadi pemenang Pilkada.

“Who knows next, di masa depan nanti,” kata Fadly.

Pagelaran naratif-musikal ini kemudian dilanjutkan dengan penampilan seni yang disutradarai Edy Utama sebagai bagian dari rangkaian kegiatan memperingati Bulan Bung Hatta.

Usai pidato Halida Hatta, Eddy Utama melalui narasi yang dibacakan secara bergantian oleh para aktor Talago Bunyi, memulai kisah Muhammad Hatta dengan peristiwa penangkapan dirinya bersama 3 tokoh Indonesia lainnya, Nazir Sutan Pamuntjak, Ali Sastroamidjojo dan Abdul Madjid Djojodiningrat.

Penangkapan itu kemudian berujung dengan pidato pembelaan berjudul “Indonesia Merdeka” di pengadilan Belanda.

Kisah berlanjut hingga pergerakan kemerdekaan di Indonesia, kisah tentang berkeluarga, berbagi panggung dan waktu dengan Bung Karno hingga ditutup dengan wasiat untuk tidak dikubur di Taman Makam Pahlawan. (HER)

Read Entire Article
Pekerja | | | |