Mahasiswa Sejarah STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh Kunjungi Candi Kedaton Jambi

6 hours ago 10

Langgam.id – Mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh mengunjungi Candi Kedaton Jambi, Selasa (28/4/2026). Rombongan terdiri dari 19 mahasiswa, didampingitiga orang dosen, serta seorang peneliti dari Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PR-KKP) BRIN, Zusneli Zubir. Rombongan berangkat dari Payakumbuh pada 27 April lalu.

“Tujuan dari kuliah lapangan ini adalah memberikan penjelasan mendalam mengenai sejarah dan arkeologi candi tersebut,” kata Zusneli Zubir dalam siaran pers yang diterima Langgam.id, Sabtu (2/5/2026).

Menurutnya, kuliah lapangan ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama antara pihak STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh dengan BRIN PR-KKP sejak September 2025 lalu.

Candi Kedaton merupakan salah satu situs arkeologi utama di kompleks Muaro Jambi, Provinsi Jambi, yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Kerajaan Melayu dan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Sumatra Timur pada abad ke-7. “Kunjungan ke Candi Kedaton penting untuk mahasiswa, khususnya Program Studi Pendidikan Sejarah, karena memungkinkan pengalaman belajar langsung di lapangan (field study).” jelas Kepala Balai Pelestarian Wilayah Jambi Yanto H.M Manurung saat memberikan sambutan, sekaligus melepas kuliah lapangan mahasiswa ke komplek Candi Muaro Jambi.

Kompleks Candi Kedaton mencakup berbagai struktur candi yang tersusun dari batu bata merah, memperlihatkan arsitektur dan teknik konstruksi kuno yang khas, serta menyediakan bukti material penting mengenai praktik keagamaan, politik, dan sosial masyarakat pada masa itu.

Situs Candi Muaro Jambi ditemukan pertama kali oleh seorang perwira Inggris bernama S.C. Crooke pada tahun 1824. Penemuan ini terjadi saat Crooke melakukan pemetaan daerah aliran Sungai Batanghari untuk kepentingan militer, di mana ia melaporkan adanya reruntuhan bangunan bata dan arca di wilayah tersebut.

“Sebagai bagian dari situs Buddha terbesar di Asia Tenggara, tempat ini menjadi pusat edukasi sejarah dan budaya yang berharga. Selain itu, komplek ini dikelilingi rimbunan pohon dan kanal kuno, memberikan suasana tenang yang cocok untuk wisata keluarga sekaligus wisata sejarah masa Hindu-Buddha,” ujar Novie Hari Putranto – arkeolog BalaiPelestarian Kebudayaan Wilayah Jambi di sela-sela pemaparannya di Candi Kedaton.

Keberadaan candi Kedaton, tambahnya memungkinkan pengunjung memahami penggunaan ruang sakral, simbolisme, dan estetika arsitektur tradisional Nusantara. Selain itu, situs ini merupakan pusat penelitian arkeologi yang aktif, di mana penemuan artefak, prasasti, dan sisa bangunan dapat memperkaya pemahaman sejarah lokal dan nasional di masa Hindu-Buddha.

“Candi Kedaton memiliki nilai edukatif yang tinggi karena memberikan wawasan langsung tentang sistem tata kota kuno, hierarki sosial, dan ritual keagamaan di kerajaan Melayu kuno.” ujar Fikrul Hanif Sufyan dalam penyampaian uraiannya dalam kuliah lapangan pada rombongan mahasiswa.

Kunjungan dipimpin oleh ketua rombongan, Dedi Asmara. didampingi Kaprodi pendamping Nahdatul Hazmi, serta staf pengajar Fikrul Hanif Sufyan. Kegiatan KL di Candi Kedaton ini, menurut Nahdatul Hazmi bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa tentang warisan budaya dan sejarah lokal, sekaligus mendukung pembelajaran lapangan yang interaktif di bidang sejarah.

“Para mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah dapat mengobservasi metode konstruksi kuno, mempelajari konteks historis candi, dan menghubungkannya dengan literatur sejarah.” kata Dedi Asmara selaku pengajar mata kuliah sejarah Indonesia masa Hindu-Buddha mengakhiri kuliah lapangan di Candi Kedaton. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan akademik, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap warisan budaya Indonesia dan kesadaran akan pentingnya konservasi situs bersejarah. (*/SS)

Read Entire Article
Pekerja | | | |