Dinas Kehutanan: 23 Karhutla Selama Januari hingga September 2026 di Sumbar

2 hours ago 8

Langgam.id – Dinas Kehutanan Sumatra Barat mencatat 23 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi sejak Januari hingga September 2026 di Sumbar.

“Memang dari Januari sampai September ini yang sudah terekap sama kami baru 23 kejadian,” ujar Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Ferdinal Asmin, Selasa (8/9/2026).

Ia menegaskan data kejadian yang diterima Dinas Kehutanan belum tentu menggambarkan seluruh kebakaran terjadi di Sumbar. Beberapa kejadian kebakaran bukan hanya di kawasan hutan, tetapi lebih banyak di area penggunaan lain di luar kawasan.

Bahkan, terdapat kemungkinan kebakaran yang tidak dilaporkan.

“Kadang bisa jadi tidak terlaporkan. Yang terlaporkan dan kemudian kami tangani itu yang 23 ini. Yang tidak terlaporkan bisa-bisa juga lebih dari itu,” ungkapnya.

Ferdinal menyebutkan sejumlah kejadian yang ditangani berada di lahan masyarakat. Di antaranya Di Dharmasraya, Pasaman Barat hingga Pesisir Selatan.

“Ada beberapa kejadian, di Timpeh, kemudian di Air Bangis, Lunang Tapan. Itu terpantau semua,” jelasnya.

Selain itu, kebakaran juga terjadi di Kabupaten Tanah Datar dengan luasan sekitar satu hingga dua hektare pada sejumlah kejadian.

“Di Tanah Datar rata-rata antara satu sampai dua hektare terbakar. Memang lahan masyarakat, ada lahan jagung yang mau ditanam, ini dibakar,” ucap Ferdinal.

Ia mengungkapkan, pembakaran untuk membuka atau membersihkan lahan menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Pasalnya, api yang digunakan untuk membakar lahan dapat menyebar ketika kondisi angin berubah.

“Pengalaman kita, ketika membakar kemudian ada angin yang tidak menentu, itu yang menyerang. Kemudian bisa menyebar pada kebun-kebun yang lain atau bahkan pada kawasan hutan kita,” bebernya.

Ferdinal menyebutkan, seluruh kejadian karhutla yang telah ditangani sejauh ini berhasil dipadamkan. Sementara untuk mencegah kebakaran meluas, Dinas Kehutanan juga melakukan pemantauan menggunakan citra satelit melalui SiPongi.

“Intinya melihat dari citra satelit dan juga satelit yang kita gunakan di SiPongi. Peringatan-peringatan itu sudah diberikan melalui SiPongi,” tegasnya.

Ferdinal mengatakan setiap titik panas yang terdeteksi tidak langsung dikategorikan sebagai kebakaran. Karena harus ada petugas terlebih dahulu melakukan pengecekan ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya.

“Banyak medium-medium di SiPongi dan kita sudah lakukan cross check. Ada yang memang kebakaran, ada yang tidak. Itu yang sudah kita konfirmasi, cek di lapangan,” tuturnya.

Ia mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran ketika mengelola lahan, terutama di tengah kondisi cuaca panas. Dinas Kehutanan Sumbar telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh bupati dan wali kota sejak April 2026 untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla.

“Sejak bulan April kami sudah keluarkan surat edaran kepada semua bupati dan wali kota untuk menyiapsiagakan,” pungkasnya. (WAN)

Read Entire Article
Pekerja | | | |