Langgam.id – Rektor Universitas Andalas (UNAND), Efa Yonnedi, menjadi pembicara utama (keynote speaker) pada 2026 China–ASEAN Youth Community Forum yang berlangsung di Fanjingshan Hall, Permanent Venue of China–ASEAN Education Cooperation Week, Guiyang, Provinsi Guizhou, China, Kamis (30/7/2026).
Forum tersebut merupakan bagian dari rangkaian The 21st ASEAN and 11th ASEAN+3 Youth Cultural Forum (AYCF) yang digelar pada 28 Juli hingga 2 Agustus 2026. Kegiatan yang menjadi program unggulan ASEAN University Network (AUN) itu mempertemukan generasi muda dari negara-negara ASEAN, China, Jepang, dan Korea Selatan untuk memperkuat kolaborasi pendidikan serta pemahaman lintas budaya.
Dalam pidatonya yang berjudul AI From Smart Campus to Sustainable Impact, Efa Yonnedi menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) harus mampu memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya menciptakan kampus yang lebih cerdas, tetapi juga mendukung pendidikan yang inklusif, riset yang relevan, serta memperkuat kerja sama China-ASEAN secara berkelanjutan.
Menurutnya, pengembangan AI di lingkungan perguruan tinggi harus tetap mengedepankan integritas akademik, etika, keamanan data, kesetaraan akses, serta keberagaman bahasa.
“AI harus mendukung peran dosen dan meningkatkan kualitas pembelajaran, bukan menggantikan pertimbangan maupun tanggung jawab manusia,” ujar Efa dikutip dari laman kampus, Sabtu (1/8/2026).
Pada kesempatan itu, Efa juga memperkenalkan UNAND sebagai perguruan tinggi multidisiplin yang memiliki 154 program studi, sekitar 36 ribu mahasiswa, dan lebih dari 1.500 tenaga akademik. Potensi tersebut, katanya, menjadi modal untuk memperluas kerja sama internasional di bidang ketahanan pangan, kesehatan, mitigasi bencana, teknologi, industri, hingga pembangunan manusia.
Untuk memperkuat kemitraan China-ASEAN, Efa menawarkan tiga inisiatif strategis, yakni pembentukan China–ASEAN Responsible AI Teaching Academy, China–ASEAN Youth AI Challenge Labs, serta pengembangan jalur pendidikan bersama yang mengintegrasikan micro-credentials, pertukaran mahasiswa, magang industri, riset kolaboratif, supervisi bersama, hingga program gelar ganda.
Forum tersebut juga dihadiri Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, dr. Irene M. Han, yang menyampaikan sambutan pembukaan. Selain Efa Yonnedi, pidato utama juga disampaikan Associate Professor Tsinghua University, Qian Jing, dan Professor China Foreign Affairs University, Zha Wen.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sesi dialog pemuda dan akademisi China-ASEAN, penyusunan Youth Consensus, serta diskusi mengenai pemerataan akses AI, peningkatan kompetensi dosen, integritas akademik, pengembangan AI untuk bahasa lokal, hingga kolaborasi pendidikan dengan dunia industri.
Menutup pidatonya, Efa mengajak perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan generasi muda untuk membangun ekosistem AI yang bertanggung jawab melalui kemitraan yang nyata.
“Jangan hanya bertanya bagaimana AI membentuk generasi berikutnya. Pastikan generasi berikutnya memiliki pengetahuan, etika, dan persahabatan internasional untuk membentuk masa depan AI,” pungkasnya. (HER)













































