Salah Paham tentang Nasionalisme Anak Muda

9 hours ago 4


Setiap kali muncul generasi baru, muncul pula kekhawatiran lama. Kaum muda dianggap semakin jauh dari nilai-nilai kebangsaan, lebih akrab dengan budaya global, dan kurang peduli terhadap masa depan Indonesia. Penilaian seperti ini terus berulang, hanya berganti sasaran dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Padahal, jika menengok sejarah, kaum muda justru selalu berada di garis depan perubahan. Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, hingga Reformasi 1998 memperlihatkan bahwa setiap generasi memiliki cara sendiri dalam memaknai dan memperjuangkan Indonesia. Ironisnya, setelah perubahan itu terjadi, generasi yang pernah dipuji sering kali menjadi kelompok yang meragukan nasionalisme generasi sesudahnya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perdebatan tentang nasionalisme anak muda sesungguhnya bukan hal baru. Hampir setiap generasi yang lebih tua cenderung memandang generasi berikutnya memiliki komitmen kebangsaan yang lebih lemah dibandingkan generasinya sendiri. Karena terus diulang, anggapan itu akhirnya diterima sebagai sesuatu yang seolah-olah benar.

Survei Populix pada 2023 menunjukkan lebih dari 60 persen responden dari Generasi X, milenial, dan Generasi Z sama-sama menilai semangat nasionalisme kaum muda mengalami penurunan. Menariknya, persepsi tersebut juga hidup di kalangan generasi yang selama ini paling sering dituduh mengalami krisis nasionalisme. Dengan kata lain, narasi tentang melemahnya nasionalisme tidak hanya diproduksi oleh generasi yang lebih tua, tetapi juga telah diinternalisasi oleh sebagian kaum muda sendiri.

Namun, benarkah nasionalisme generasi muda memang sedang menurun?

Berbagai penelitian justru memberikan gambaran yang lebih kompleks. Survei Lembaga Survei Indonesia pada April 2026 menunjukkan bahwa 98 persen responden mengaku bangga menjadi orang Indonesia. Sebagian besar bahkan menyatakan sangat bangga. Penelitian Supratiknya (2021) juga menemukan bahwa identitas nasional kaum muda berada pada kategori yang cukup tinggi. Temuan Litbang Kompas pada 2025 memperlihatkan kecenderungan serupa. Generasi Z tetap menunjukkan tingkat kebanggaan yang tinggi terhadap Indonesia.

Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan nasionalisme generasi muda tidak dapat dipahami hanya dengan pertanyaan apakah rasa cinta kepada Indonesia meningkat atau menurun. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana generasi muda memaknai dan mengekspresikan kecintaan itu.

Selama ini nasionalisme sering diukur melalui ukuran yang dibentuk oleh pengalaman generasi sebelumnya. Kedekatan dengan simbol-simbol negara, penghormatan terhadap tradisi, atau keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial kerap dijadikan tolok ukur utama. Ketika generasi muda menampilkan bentuk ekspresi yang berbeda, mereka kemudian dinilai memiliki nasionalisme yang lebih lemah.

Cara pandang seperti itu menyederhanakan persoalan. Dalam kajian sosiologi generasi, setiap generasi dibentuk oleh pengalaman sejarah, lingkungan sosial, dan perkembangan teknologi yang berbeda. Perubahan konteks tersebut turut mengubah cara individu membangun hubungan dengan bangsanya. Perbedaan ekspresi tidak dengan sendirinya menunjukkan perbedaan tingkat komitmen.

Hal itu tampak dalam Survei Litbang Kompas mengenai Hari Kebangkitan Nasional tahun 2025. Makna Hari Kebangkitan Nasional relatif dipahami secara serupa oleh berbagai kelompok usia. Namun, ketika diminta menilai kondisi Indonesia saat ini, responden yang lebih muda cenderung memberikan penilaian yang lebih kritis dibandingkan kelompok usia yang lebih tua.

Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa bagi sebagian generasi muda, nasionalisme tidak selalu diwujudkan melalui penerimaan tanpa syarat terhadap keadaan. Mencintai Indonesia juga berarti berani melihat persoalan, menyampaikan kritik, dan menginginkan perubahan. Kritik tidak selalu bertentangan dengan nasionalisme. Dalam banyak keadaan, kritik justru lahir dari keinginan agar bangsa ini menjadi lebih baik.

Pada saat yang sama, generasi muda hidup dalam lingkungan yang jauh lebih terbuka dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, dan arus informasi global yang membuat batas-batas geografis semakin kabur. Mereka mengonsumsi budaya dari berbagai negara, tetapi pada saat yang sama juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia melalui ruang digital. Mereka bekerja dalam jaringan global, tetapi tetap membangun kehidupan di Indonesia. Keterhubungan dengan dunia tidak serta-merta mengurangi keterikatan kepada tanah air.

Karena itu, nasionalisme generasi muda perlu dipahami sebagai sesuatu yang terus berubah mengikuti perubahan masyarakat. Nasionalisme bukanlah konsep yang beku. Ia selalu menemukan bentuk-bentuk baru sesuai dengan tantangan zamannya. Yang tetap adalah komitmen untuk menjaga Indonesia, sementara cara mengekspresikannya dapat berbeda dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Barangkali yang perlu kita pertanyakan bukanlah apakah generasi muda masih mencintai Indonesia. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah kita bersedia menerima bahwa setiap generasi memiliki cara yang berbeda dalam mencintai bangsanya. Nasionalisme tidak kehilangan maknanya karena berubah bentuk. Justru kemampuannya menyesuaikan diri dengan perubahan zaman membuatnya tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.

*Penulis: Sartana, M.A. (Dosen Psikologi Sosial Fakultas Kedokteran Universitas Andalas)

Read Entire Article
Pekerja | | | |