Langgam.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada Juni 2026 mencapai 4,70 persen. Lonjakan inflasi tersebut terutama didorong kenaikan harga cabai merah dan dampak penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang mendorong naiknya biaya transportasi.
Kepala BPS Provinsi Sumatera Barat, Nurul Hasanudin, mengatakan inflasi tahunan Juni 2026 tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 113,51, dari 108,41 pada Juni 2025.
“Pada Juni 2026, Provinsi Sumatera Barat mengalami inflasi year on year sebesar 4,70 persen dengan IHK sebesar 113,51,” kata Nurul Hasanudin dalam Berita Resmi Statistik BPS Sumbar, Rabu (1/7/2026).
Menurut Nurul, cabai merah menjadi komoditas yang memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni sebesar 0,73 persen. Selain itu, kenaikan harga bensin turut memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,17 persen, disusul angkutan udara sebesar 0,14 persen.
Komoditas lain yang ikut mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, beras, minyak goreng, bawang merah, ikan cakalang, nasi dengan lauk, ikan nila, bahan bakar rumah tangga, sewa rumah, tomat, Sigaret Kretek Mesin (SKM), daging ayam ras, ayam goreng, mobil, pepaya, dan ikan tongkol.
Secara kelompok pengeluaran, inflasi terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan 7,76 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 2,54 persen. Selanjutnya kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,55 persen, transportasi 0,47 persen, serta penyediaan makanan dan minuman atau restoran sebesar 0,42 persen.
Selain inflasi tahunan, Sumatera Barat juga mengalami inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,50 persen pada Juni 2026. Hingga semester pertama 2026, inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 0,98 persen.
Untuk inflasi bulanan, cabai merah kembali menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,14 persen. Kenaikan harga bensin juga memberikan andil sebesar 0,14 persen, diikuti angkutan udara, tomat, bahan bakar rumah tangga, bawang putih, telepon seluler, cabai rawit, dan sejumlah komoditas lainnya.
Di sisi lain, beberapa komoditas menahan laju inflasi pada Juni 2026. Daging ayam ras, telur ayam ras, sawi hijau, buncis, kangkung, minyak goreng, cumi-cumi, bawang merah, ketimun, terong, dan buah naga tercatat memberikan andil deflasi.
BPS juga mencatat seluruh daerah cakupan IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi tahunan. Kabupaten Dharmasraya menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 5,91 persen, disusul Kabupaten Pasaman Barat 5,90 persen. Sementara Kota Bukittinggi mencatat inflasi 4,52 persen dan Kota Padang menjadi yang terendah dengan inflasi 4,19 persen.
Nurul mengatakan kenaikan harga komoditas pangan, terutama cabai merah, serta meningkatnya biaya transportasi akibat kenaikan harga BBM menjadi faktor dominan yang membentuk inflasi Sumatera Barat pada Juni 2026. (HER)

















































