Cerita Korban Banjir Padang yang Masih Memilih Tinggal di Tenda Pengungsian

2 hours ago 9

Langgam.id- Langit di hulu sungai Batang Kuranji tampak gelap saat disaksikan dari Lapau Munggu, Kecamatan Kuranji, Kota Padang pada Minggu sore (9/8/2026). Pada pekan lalu, daerah itu diterjang banjir untuk ketiga kalinya dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Trouma akan air bah kembali datang, puluhan warga Lapau Manggu memilih untuk bertahan tenda pengungsian lantaran penuh cemas jika tinggal di kediaman masing-masing.

Seperti yang dialami oleh salah satu warga Lapau Manggu Novia Safitri (33) yang memilih tetap tinggal di tenda pengungsian meksi banjir sudah surut. Ia masih trauma setelah rumahnya tiga kali diterjang banjir bandang.

Banjir pertama terjadi pada akhir 2025. Banjir kembali menerjang pada Mei 2026, kemudian terjadi lagi pada 3 Agustus 2026.

“Kalau langit sudah gelap di hulu, kami masih cemas. Ini sudah ketiga kalinya dihantam banjir bandang,” katanya.

Ia berharap pemerintah dapat membantu keluarganya mendapatkan hunian tetap di lokasi yang lebih tinggi. Warga yang tinggal di posko, memiliki lahan di tempat yang dinilai lebih aman. Lahan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah sebagai lokasi yang diharapkan, menjadi tempat pembangunan rumah baru atau Huntap

Kecemasan juga dirasakan warga lainnya Darmalis (52). Meski rumahnya masih dapat berdiri, tetapi bagian dinding mengalami kerusakan setelah semen runtuh akibat terdampak banjir.

Rumah tersebut sudah dibersihkan dari lumpur. Namun, Darmalis belum berani kembali tinggal, karena masih khawatir banjir kembali terjadi.

“Rumah masih bisa ditinggali, tetapi untuk saat ini belum bisa saya huni. Takut kejadian lagi air besar,” katanya.

Setiap hujan turun, rasa cemas kembali muncul. Pengalaman tiga kali banjir membuat warga memilih berada di tenda, yang dianggap lebih aman untuk sementara.

Hal senada juga disampaikan oleh warga lainnya Nur (76) yang memilih masih tinggal di tenda pengungsian. Banjir yang terjadi pada Senin 3 Agustus 2026 lalu merusak rumah serta ladang milik Nur.

Tanaman jagung yang baru berusia sekitar dua bulan ikut tersapu banjir. Akibatnya, Nur tidak lagi memiliki lahan untuk digarap dan sumber penghasilannya ikut terhenti.

Di posko, Nur kini memasak dan makan bersama dengan  warga lain. Ia belum ingin kembali ke rumah karena masih takut.

Ia berharap pemerintah dapat membantu membangun hunian di lokasi yang lebih aman. Karena, kembali ke rumah lama, hanya membuat warga kembali berhadapan dengan risiko yang sama.

“Lebih baik mencari aman dan dibuatkan rumah di tempat yang lebih aman,” kata Nur.

Sementara itu, Kepala RT 02 RW 06 Lapau Munggu, Adenan Syahputra Antoni, mengatakan sekitar 40 kepala keluarga tinggal di wilayah tersebut. Sekitar 35 rumah warga terdampak banjir.

Menurut Adenan, warga masih bertahan di posko, karena trauma masih dirasakan warga, setelah banjir kembali terjadi untuk ketiga kalinya. Bahkan, hujan yang belum deras dapat membuat warga memilih mengungsi.j

Lampiran Gambar

“Kalau sedikit hujan, masyarakat langsung mengungsi karena masih cemas. Ini sudah ketiga kalinya terjadi,” kata Adenan.

Kemudian ia mengatakan kondisi kesehatan warga sejauh ini masih terkendali. Namun, beberapa warga mengalami flu, demam, dan mengeluhkan kondisi tubuh kurang sehat.

“Alhamdulillah, masyarakat masih ada tempat tidur. Ada yang flu, demam, dan kurang enak badan,” ujarnya. (fix)

Read Entire Article
Pekerja | | | |