Anyaman Mensiang di Koto Malintang

5 hours ago 10

PalantaLanggam – Di tepian Danau Maninjau yang pernah menjadi urat nadi ekonomi, masyarakat Nagari Kotomalintang kini sedang menulis babak baru. Di bawah kepemimpinan Wali Nagari Hendra Yanto, nagari ini bergerak mencari sumber penghidupan alternatif, tanpa melepaskan komitmen pada kelestarian lingkungan.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Berulangnya peristiwa kematian massal ikan di keramba jaring apung (KJA) menjadi alarm keras. Danau yang dulu menjanjikan, kini menghadapi tekanan serius akibat overkapasitas. “Sudah tidak prospektif lagi jika terus bergantung pada danau. Kita harus berani beralih,” demikian semangat yang terus digaungkan di tengah masyarakat.

Perubahan pun dimulai dari hal yang dekat dengan alam. Pemanfaatan aren liar menjadi titik awal, disusul penanaman hutan rakyat dengan jenis cepat tumbuh seperti kaliandra. Di bawah tegakan itu, masyarakat mengembangkan budidaya lebah tanpa sengat, galo-galo yang kini menunjukkan lompatan signifikan: dari hanya dua stup, berkembang menjadi 150 stup. Hasilnya mulai terasa sebagai sumber pendapatan baru bagi warga.

Tak berhenti di situ, geliat budidaya aren juga terus menguat. Dari bantuan awal 100 hingga 150 bibit, kini berkembang menjadi kebun bibit rakyat dengan rencana penanaman mencapai sekitar 40 hektare di tanah nagari. Meski belum panen, harapan sudah ditanam dalam enam tahun ke depan, batang-batang itu akan mulai disadap.

Kemajuan juga terlihat dari sisi kelembagaan. Kelompok-kelompok tani seperti Gila Aren, Ambacang Jaya, Serampak, hingga kelompok peternakan tumbuh aktif dan produktif. Nagari ini bahkan menjadi binaan berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. Prestasi pun mengiringi, salah satunya Juara I Dasawisma tingkat Kabupaten Agam.

Namun di balik kemajuan itu, satu peluang masih terbuka lebar: cendera mata khas nagari. Padahal, Kotomalintang telah lama dikenal sebagai destinasi wisata dengan objek unggulan Muko-Muko. Kekosongan ini kemudian dilihat sebagai peluang oleh Universitas Dharma Andalas (Unidha).

Melalui Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP), Unidha memperkenalkan inovasi baru: pengembangan kriya anyaman berbasis tanaman mensiang. Pada kegiatan pengabdian masyarakat, 30 April 2026, tim TIP Unidha melakukan introduksi tanaman mensiang yang sebelumnya belum dikenal di nagari sekaligus pelatihan pewarnaan bahan anyaman.

Kelompok Wanita Tani Ambacang Jaya menjadi motor awal. Mereka menerima bantuan bibit mensiang, bahan anyaman siap olah, serta pewarna alami. Sebanyak 14 anggota kelompok mengikuti pelatihan dengan antusias, membuka peluang lahirnya produk anyaman bernilai tinggi.

Kegiatan ini menjadi langkah awal menuju lahirnya identitas baru Kotomalintang: bukan hanya nagari penghasil komoditas alam, tetapi juga sentra kriya yang bernilai ekonomi dan budaya.

Acara tersebut turut dihadiri dan dibuka langsung oleh Wali Nagari Hendra Yanto. Dari pihak Unidha, hadir Ketua Prodi TIP Prof. Anwar Kasim bersama tim akademisi seperti Dr. Sri Mutiar, Dr. (cand.) Ruri Wijayanti, Dr. (cand.) Dewi Arziyah, Malse Anggia, Ariyetti M.Si, dan Lisa Yusmita M.Si, serta mahasiswa.

Ke depan, pelatihan akan terus berlanjut hingga mampu menghasilkan produk unggulan sebagai cendera mata khas nagari. Dari krisis menuju kreasi, dari keterbatasan menuju inovasi, Kotomalintang sedang menenun masa depannya sendiri.

Read Entire Article
Pekerja | | | |